A. Pengertian Kultur Sekolah
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2003) yang dimaksud dengan budaya adalah (1) pikiran; akal budi, (2)
adat istiadat, (3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab,
maju), dan (4) sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.
Menurut Antropologi (Koentjaraningrat,
2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta
karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan
miliknya dengan belajar.
Kultur merupakan pandangan hidup
yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir,
perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak.
Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada
generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk
memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa
Efianingrum, 2009: 21).
Istilah budaya atau kultur pada
awalnya berasal dari disiplin ilmu antropologi sosial. Apa yang tercakup dalam
definisi budaya sebenarnya sangatlah luas. Budaya laksana software yang
berada dalam otak manusia, yang menuntun persepsi, mengidentifikasi apa yang
dilihat, mengarahkan fokus pada suatu hal, serta menghindar dan aspekaspek yang
lain.
Kemudian pengertian kultur
sekolah yang dikemukakan oleh Deal & Peterson (2011) adalah :
“School culture is the set of
norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that
make up the persona of the school. These unwritten expectation build up over
time as teachers, administratirs, parents, and students work together, solve
problems, deal with challenges and, at times, cope with failurues, For
examples, every school has a set of expectations about wjat can be discussed at
staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how willing the
staff is to change, and the importance of staff development. School culture is
also the way they think their schools and deal with the culture in which they
work”
(Deal
& Peterson, 2011).
Budaya
sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan
upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis
harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang
tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan
mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa
yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan
pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir
tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Sedangkan
menurut Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai:
“School
cultures are complex webs of traditions and rituals that have been built up
over time as teachers, students, parents, and administrators work together and
deal with crises and accomplishments. Cultural patterns are highly enduring,
have a powerful impact on performance, and shape the essays people think, act,
and feel”
(Schein,
Deal & Peterson, 2002).
Budaya
sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah
dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang
bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi,
memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir,
bertindak, dan merasa.
Menurut
Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa,
dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan
sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard
Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang
diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan
interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode
moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa
selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan,
tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk
dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan
akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan
sekolah.
kebudayaan
adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang
digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan
pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan
juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial,
yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi
berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan
simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk
juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat
mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak
sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses
belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak
selamanya sama.
Begitu
pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki
budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam
membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya
“keunikan” dalam dinamika budaya sekolah. Dalam organisasi sekolah, pada
hakikatnya terjadi interaksi antar individu sesuai dengan peran dan fungsi
masing-masing dalam rangka mencapai tujuan bersama. Tatanan nilai yang telah
dirumuskan dengan baik berusaha diwujudkan dalam berbagai perilaku keseharian
melalui proses interaksi yang efektif. Dalam rentang waktu yang panjang,
perilaku tersebut akan membentuk suatu pola budaya tertentu yang unik antara
satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya
menjadi karakter khusus suatu lembaga pendidikan yang sekaligus menjadi pembeda
dengan lembaga pendidikan lainnya.
Sekolah
sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat
dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen
sekolah, serta kultur sekolah.
Dalam
menjalankan tugas dan fungsinya, Kepala Sekolah harus memahami kultur atau
budaya sekolah yang dipimpinnya. Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan misi
yang dimiliki oleh Kepala Sekolah tentang masa depan sekolah. Kepala Sekolah
yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa dean akan lebih
sukses dalam membangun sekolah. Oleh karma itu, Kepala Sekolah harus memiliki
budaya kerja (kebiasaan bekerja).
B.
Karakteristik Kultur Sekolah
Kultur
Sekolah dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekolah baik
pengaruh positif maupun pengaruh negatif sebagaimana karakteristik kultur
tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Moerdiyanto yang
menyatakan bahwa “Kultur sekolah terdiri dari kultur positif dan kultur
negatif. Kultur positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu
kehidupan bagi warganya.
Kultur
sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja disekolah dan mutu
kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan
profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif,
beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah
dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik,
penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.
Dalam
pengertian mutu sekolah dan mutu kehidupan dapat dimaksudkan sebagai mutu yang
berhubungan dengan kehidupan yang bernilai moralitas dan agamis masyarakat
sekolah. Aktifitas siswa dalam kesehariannya tidak akan lepas dari keterlibatan
kultur sekolah pada proses bersikap, berbuat dan memandang bahkan berfikirnya.
Mutu kehidupan siswa yang diharapkan adalah siswa yang memiliki prilaku baik
dalam sudut pandang etika dan agama. Kultur positif ini akan memberi peluang
sekolah beserta warganya untuk membentuk dan maningkatkan kemampuan dan
kecerdasan spiritual siswa.
Kultur
sekolah dapat dibedakan menjadi dua yaitu, kultur sekolah positif dan kultur
sekolah negatif. Kultur sekolah positif merupakan kultur sekolah yang dapat
meningkatkan mutu sekolah serta mutu kehidupan, seperti sehat, kuat, stabil,
dan aktif. Kultur sekolah yang positif dapat memperbaiki mutu sekolah sehingga
dapat memberikan peluang bagi sekolah dan warga sekolah untuk mengoptimalkan
kinerja agar lebih efisien dan efektif. Untuk itu kultur sekolah yang positif
harus terus dikembangkan dan menjadi tanggung jawab bagi seluruh warga sekolah
(Depdiknas, 2002).
Kultur
sekolah negatif tentunya merupakan kebalikan dari kultur sekolah positif,
kultur sekolah negatif merupakan kultur sekolah yang tidak kondusif sehingga
dapat menghambat sekolah dalam peningkatan mutu serta kualitas sekolah. Sejalan
dengan penjelasan yang diberikan Depdiknas, Djemari Mardapi (2003) juga
mengemukakan kultur sekolah positif dan kultur sekolah negatif, sebagai berikut:
a.
Kultur sekolah yang positif
Kultur sekolah yang positif merupakan
kultur dimana sekolah menyediakan kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan
kualitas pendidikan, seperti kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan
terhadap prestasi, serta komitmen terhadap belajar.
b.
Kultur sekolah yang negatif
Kultur
sekolah yang negatif merupakan kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu
pendidikan, yang dalam arti kata lain resisten terhadap perubahan.
Dalam
hal ini sekolah harus menyadari dan memahami secara benar kultur sekolah yang
berkembang di sekolah, sehingga pihak sekolah mampu menindaklanjuti ataupun
meminimalisir kultur sekolah yang berkembang didalam sekolah dalam perbaikan
kualitas sekolah. Kerja sama setiap warga sekolah dalam memberikan informasi
serta wawasan akan unsur kultur sekolah ada yang bersifat positif dan negatif,
dalam kaitannya dengan mengenali aspek kultural yang cocok dan menguntungkan
serta aspek yang cenderung dapat melemahkan dan merugikan pihak sekolah
terkait. Berikut beberapa contoh fenomena yang mudah dikenali dan diyakini
dapat mencerminkan berbagai aspek kultural, yang masing-masing berkaitan dengan
kualitas moralitas, dan multikultural (Farida Hanum, 2008: 14-15).
Kultur
positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan pendidikan
yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual siswa dan perbaikan
kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya
kecerdasan tersebut. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang bersifat
anarkis, negatif, beracun, bias, dan dominatif. Sekolah yang hanya melihat dan
menargetkan hasil pendidikan yang berupa kemampuan intelegensi dan mengabaikan
dimensi spiritaual siswa merupakan bagian dari kultur negatif, karena mereka
cenderung tidak melakukan upaya yang mengarah kepada terbentuk dan
berkembangnya kecerdasan spiritual siswa. Kultur sekolah bersifat dinamis.
Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan
bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang
jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini
ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Dan kultur
sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk
dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara
serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur
sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif,
kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.
Sifat
dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur
sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur
tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem
nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun
ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan
jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).
Kultur-kultur
yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :
1.
Kultur yang terkait prestasi/kualitas :
a. semangat
membaca dan mencari referensi;
b. keterampilan
siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup;
c. kecerdasan
emosional siswa;
d. keterampilan
komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis;
e. kemampuan
siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.
2.
Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :
a. nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan;
b. nilai-nilai
keterbukaan;
c. nilainilai
kejujuran;
d. nilai-nilai
semangat hidup;
e. nilai-nilai
semangat belajar;
f. nilai-nilai
menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain;
g. nilai-nilai
untuk menghargai orang lain;
h. nilai-nilai
persatuan dan kesatuan;
i. nilai-nilai
untuk selalu bersikap dan berprasangka positif;
j. nilai-nilai
disiplin diri;
k. nilai-nilai
tanggung jawab;
l. nilai-nilai
kebersamaan;
m. nilai-nilai
saling percaya;
n. dan
nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah
(
Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).
3.
Fungsi dan Peran Kultur Sekolah
a.
Sebagai ciri khas yang dapat menjadi
identitas serta citra suatu lembaga pendidikan. Dalam fungsi dan peran kultur
sekolah ini dapat menjadi ciri tersendiri dari suatu sekolah yang menjdi ciri
khas dan membedakan antara sekolah satu dengan yang lainnya sesuai dengan
kultur yang berkembang didalam sekolah.
b.
Sebagai pedoman, kultur sekolah dapat
menjadi pedoman atau pandangan bagi warga sekolah dalam batasan berprilaku yang
sudah disepakati dan menggenerasi dari waktu ke waktu.
c.
Sebagai cara pemecahan masalah, kultur
sekolah dapat menjadi sebuah keyakinan cara untuk memecahkan masalah,
terbentuknya kultur sekolah tidak dapat menggunakan cara yang singkat. Untuk
itu dalam hal ini kultur sekolah dapat manjadi keyakinan warga sekolah dalam
memecahkan masalah menggunakan cara yang dipercayai dan dianggap benar untuk
memecahkan suatu masalah.
d.
Sebagai strategi, kultur sekolah dapat
dijadikan sebagai strategi untuk sekolah sebagai bahan agar dapat dibanggakan
ataupun sebagai nilai popularitas sekolah. Strategi ini dapat difungsikan untuk
membuat kebijakan sekolah dalam mengolah sumber daya yang terdapat di seuatu
lembaga pendidikan.
e.
Sebagai tata nilai, dengan adanya kultur
sekolah dapat menggambarkan situasi sosial sekolah seperti perilaku. Dengan
adanya tata nilai yang berkembang disekolah, sekolah dapat merealisasikan dalam
kebijakan sekolah sebagai harapan bagi warga sekolah dalam mewujudkan tujuan
dari adanya pendidikan yang dapat dimuat dalam visi serta misi sekolah.
Referensi
Efianingrum, Ariefa. Kultur Sekolah,
Jurnal
Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.1 , Mei 2013
Moerdiyanto. Fungsi
Kultur Sekolah Menengah Atas 2012 hal 5
Roemintoyo. Manajemen Kultur
Sekolah, JIPTEK, Vol. VI No.2, Juli 2013
Rosalina, Fifiy
. 2015. Kultur Sekolah di SMA Gdajah Mada
Yogyakarta. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar