Minggu, 11 April 2021

Kultur Sekolah

A. Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) yang dimaksud dengan budaya adalah (1) pikiran; akal budi, (2) adat istiadat, (3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju), dan (4) sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.

Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).

Istilah budaya atau kultur pada awalnya berasal dari disiplin ilmu antropologi sosial. Apa yang tercakup dalam definisi budaya sebenarnya sangatlah luas. Budaya laksana software yang berada dalam otak manusia, yang menuntun persepsi, mengidentifikasi apa yang dilihat, mengarahkan fokus pada suatu hal, serta menghindar dan aspekaspek yang lain.

Kemudian pengertian kultur sekolah yang dikemukakan oleh Deal & Peterson (2011) adalah :

 

“School culture is the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that make up the persona of the school. These unwritten expectation build up over time as teachers, administratirs, parents, and students work together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with failurues, For examples, every school has a set of expectations about wjat can be discussed at staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how willing the staff is to change, and the importance of staff development. School culture is also the way they think their schools and deal with the culture in which they work”

(Deal & Peterson, 2011).

Budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai:

“School cultures are complex webs of traditions and rituals that have been built up over time as teachers, students, parents, and administrators work together and deal with crises and accomplishments. Cultural patterns are highly enduring, have a powerful impact on performance, and shape the essays people think, act, and feel”

(Schein, Deal & Peterson, 2002).

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan sekolah.

kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.

Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah. Dalam organisasi sekolah, pada hakikatnya terjadi interaksi antar individu sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing dalam rangka mencapai tujuan bersama. Tatanan nilai yang telah dirumuskan dengan baik berusaha diwujudkan dalam berbagai perilaku keseharian melalui proses interaksi yang efektif. Dalam rentang waktu yang panjang, perilaku tersebut akan membentuk suatu pola budaya tertentu yang unik antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi karakter khusus suatu lembaga pendidikan yang sekaligus menjadi pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya.

Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Kepala Sekolah harus memahami kultur atau budaya sekolah yang dipimpinnya. Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan misi yang dimiliki oleh Kepala Sekolah tentang masa depan sekolah. Kepala Sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa dean akan lebih sukses dalam membangun sekolah. Oleh karma itu, Kepala Sekolah harus memiliki budaya kerja (kebiasaan bekerja).

 

B. Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur Sekolah dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekolah baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif sebagaimana karakteristik kultur tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Moerdiyanto yang menyatakan bahwa “Kultur sekolah terdiri dari kultur positif dan kultur negatif. Kultur positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya.

Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja disekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang.

Dalam pengertian mutu sekolah dan mutu kehidupan dapat dimaksudkan sebagai mutu yang berhubungan dengan kehidupan yang bernilai moralitas dan agamis masyarakat sekolah. Aktifitas siswa dalam kesehariannya tidak akan lepas dari keterlibatan kultur sekolah pada proses bersikap, berbuat dan memandang bahkan berfikirnya. Mutu kehidupan siswa yang diharapkan adalah siswa yang memiliki prilaku baik dalam sudut pandang etika dan agama. Kultur positif ini akan memberi peluang sekolah beserta warganya untuk membentuk dan maningkatkan kemampuan dan kecerdasan spiritual siswa.

Kultur sekolah dapat dibedakan menjadi dua yaitu, kultur sekolah positif dan kultur sekolah negatif. Kultur sekolah positif merupakan kultur sekolah yang dapat meningkatkan mutu sekolah serta mutu kehidupan, seperti sehat, kuat, stabil, dan aktif. Kultur sekolah yang positif dapat memperbaiki mutu sekolah sehingga dapat memberikan peluang bagi sekolah dan warga sekolah untuk mengoptimalkan kinerja agar lebih efisien dan efektif. Untuk itu kultur sekolah yang positif harus terus dikembangkan dan menjadi tanggung jawab bagi seluruh warga sekolah (Depdiknas, 2002).

Kultur sekolah negatif tentunya merupakan kebalikan dari kultur sekolah positif, kultur sekolah negatif merupakan kultur sekolah yang tidak kondusif sehingga dapat menghambat sekolah dalam peningkatan mutu serta kualitas sekolah. Sejalan dengan penjelasan yang diberikan Depdiknas, Djemari Mardapi (2003) juga mengemukakan kultur sekolah positif dan kultur sekolah negatif, sebagai berikut:

a.     Kultur sekolah yang positif

Kultur sekolah yang positif merupakan kultur dimana sekolah menyediakan kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, seperti kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi, serta komitmen terhadap belajar.

b.     Kultur sekolah yang negatif

Kultur sekolah yang negatif merupakan kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan, yang dalam arti kata lain resisten terhadap perubahan.

Dalam hal ini sekolah harus menyadari dan memahami secara benar kultur sekolah yang berkembang di sekolah, sehingga pihak sekolah mampu menindaklanjuti ataupun meminimalisir kultur sekolah yang berkembang didalam sekolah dalam perbaikan kualitas sekolah. Kerja sama setiap warga sekolah dalam memberikan informasi serta wawasan akan unsur kultur sekolah ada yang bersifat positif dan negatif, dalam kaitannya dengan mengenali aspek kultural yang cocok dan menguntungkan serta aspek yang cenderung dapat melemahkan dan merugikan pihak sekolah terkait. Berikut beberapa contoh fenomena yang mudah dikenali dan diyakini dapat mencerminkan berbagai aspek kultural, yang masing-masing berkaitan dengan kualitas moralitas, dan multikultural (Farida Hanum, 2008: 14-15).

Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan pendidikan yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual siswa dan perbaikan kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya kecerdasan tersebut. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang bersifat anarkis, negatif, beracun, bias, dan dominatif. Sekolah yang hanya melihat dan menargetkan hasil pendidikan yang berupa kemampuan intelegensi dan mengabaikan dimensi spiritaual siswa merupakan bagian dari kultur negatif, karena mereka cenderung tidak melakukan upaya yang mengarah kepada terbentuk dan berkembangnya kecerdasan spiritual siswa. Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Dan kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.

Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1. Kultur yang terkait prestasi/kualitas :

a.     semangat membaca dan mencari referensi;

b.     keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup;

c.     kecerdasan emosional siswa;

d.     keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis;

e.     kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.

2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial :  

a.     nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan;

b.     nilai-nilai keterbukaan;

c.     nilainilai kejujuran;

d.     nilai-nilai semangat hidup;

e.     nilai-nilai semangat belajar;

f.      nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain;

g.     nilai-nilai untuk menghargai orang lain;

h.     nilai-nilai persatuan dan kesatuan;

i.      nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif;

j.      nilai-nilai disiplin diri;

k.     nilai-nilai tanggung jawab;

l.      nilai-nilai kebersamaan;

m.   nilai-nilai saling percaya;

n.     dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah

( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

3. Fungsi dan Peran Kultur Sekolah

a.     Sebagai ciri khas yang dapat menjadi identitas serta citra suatu lembaga pendidikan. Dalam fungsi dan peran kultur sekolah ini dapat menjadi ciri tersendiri dari suatu sekolah yang menjdi ciri khas dan membedakan antara sekolah satu dengan yang lainnya sesuai dengan kultur yang berkembang didalam sekolah.

b.     Sebagai pedoman, kultur sekolah dapat menjadi pedoman atau pandangan bagi warga sekolah dalam batasan berprilaku yang sudah disepakati dan menggenerasi dari waktu ke waktu.

c.     Sebagai cara pemecahan masalah, kultur sekolah dapat menjadi sebuah keyakinan cara untuk memecahkan masalah, terbentuknya kultur sekolah tidak dapat menggunakan cara yang singkat. Untuk itu dalam hal ini kultur sekolah dapat manjadi keyakinan warga sekolah dalam memecahkan masalah menggunakan cara yang dipercayai dan dianggap benar untuk memecahkan suatu masalah.

d.     Sebagai strategi, kultur sekolah dapat dijadikan sebagai strategi untuk sekolah sebagai bahan agar dapat dibanggakan ataupun sebagai nilai popularitas sekolah. Strategi ini dapat difungsikan untuk membuat kebijakan sekolah dalam mengolah sumber daya yang terdapat di seuatu lembaga pendidikan.

e.     Sebagai tata nilai, dengan adanya kultur sekolah dapat menggambarkan situasi sosial sekolah seperti perilaku. Dengan adanya tata nilai yang berkembang disekolah, sekolah dapat merealisasikan dalam kebijakan sekolah sebagai harapan bagi warga sekolah dalam mewujudkan tujuan dari adanya pendidikan yang dapat dimuat dalam visi serta misi sekolah.

 

Referensi

 

Efianingrum, Ariefa. Kultur Sekolah, Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.1 , Mei 2013

Moerdiyanto. Fungsi Kultur Sekolah Menengah Atas 2012 hal  5

Roemintoyo. Manajemen Kultur Sekolah,  JIPTEK, Vol. VI No.2, Juli 2013

 

Rosalina, Fifiy . 2015.  Kultur Sekolah  di SMA Gdajah Mada Yogyakarta. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Kuliah Online dan harapan kedepannya

  Nama : Hafizin Alzam NIM : 11901351 Dosen Pembimbing Akademik : Farninda Aditya, M.Pd. 2019 merupakan tahun pertama saya melanjutkan studi...