A. Konsep
Manajemen Berbasis Sekolah
1. Pengertian
Manajemen Berbasis Sekolah
Manajemen
sekolah dapat diartikan segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses
pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka
pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang.Tujuan Manajemen merupakan Metode
yang digunakan administrator dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu untuk
mencapai tujuan tertentu. Manajemen sekolah dan manajemen pendidikan mempunyai
pengertian yang sama. Masing-masing memiliki persamaan yang sulit untuk
dibedakan. Secara khususu ruang lingkup manajemen pendidikan juga merupkan
ruang lingkup bidang garapan manajemen sekolah. Demikian pula proses kerjanya
melalui fungsi yang sama pula.
Organisasi sekolah berjalan karena adanya konsep
manajemen yang terstruktur. Manajemen dalam organisasi sekolah sering disebut
dengan manajemen pendidikan. Manajemen pendidikan diartikan pula Administrasi
pendidikan. Administrasi pendidikan ialah segenap proses penyerahan dan pengintegrasian
segala sesuatu, baik personal, spiritual, maupun material yang bersangkut paut
dengan pencapaian tujuan pendidikan (Purwanto,2008).
Musfiqon (2015:41) menyampaikan bahwa Pendekatan
pembelajaran secara baik perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan. Sebagimana
dalam UU No 20 Tahun 2003 menerangkan “Pendidikan nasional adalah pendidikan
yang didasarkan pada Pancasila UUD 45 yang berakar dari nilai agama, kebudayaan
nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan zaman. Nurdyansyah (2016:929)
Nurdyansyah (2015: 2) “Proses pembelajaran
melibatkan berbagai pihak, tidak hanya melibatkan pendidik dan siswa. Namun,
peran dari bahan ajar juga sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran”.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh James Jr. (2007;14)
yang memaparkan bahwa manajemen sekolah adalah proses pemberdayaan Sumber Daya
Manusia bagi penyelenggara sekolah secara efektif.
Sejalan dengan James, Ali Imron Sauki (2014:104)
secara rijit berpendapat bahwa manajemen pendidikan adalah proses penataan
kelembagaan pendidikan, dengan melibatkan sumber potensial baik yang bersifat
manusia maupun yang bersifat non manusia guna mencapai tujuan pendidikan secara
efektif dan efisien.
Tujuan pendidikan yang efektif dan efisien adalah
tujuan yang bersifat jelas, mengunakan bahasa-bahasa operasional agar mudah
dipahami, penyusunan program harus menyeluruh dan saling bersinergi dengan
program yang lain sehingga saling memberi manfaat yang positif.
Manajemen akan dikatakan bagus apabila manajemen
tersebut sejalan dengan konsep dan program yang telah direncanakKitan mencapai
keberhasilan lebih dari 95%. Oleh sebab itu para pimpinan sekolah yang menjabat
sebagai manajer di lingkungan maupun unit masing-masing perlu mengusahakan
manajemen dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah disepakati bersama.
Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen atau pengelolaan merupakan komponen
integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan.
Manajemen Sekolah bermutu merupakan salah satu model
pengelolaan yang memberikan otonomi kepada madrasah atau kepala sekolah untuk
pengambilan Pengambilan Kebijakan partisipatif secara langsung sesuai dengan
standar pelayanan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, Provinsi,
Kabupaten dan Kota.
Pengertian Manajemen Sekolah bermutu terjemahan dari
“school-based management”. Manajemen Sekolah Bermutu merupakan paradigma
baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan
masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Menurut Edmond yang
dikutip Suryosubroto menjelaskan bahwa Manajemen Sekolah Bermutu merupakan
alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan saat ini yang lebih menekankan kepada
kretifitas dan kemandirian sekolah. Nurcholis mengatakan Manajemen Sekolah
bermutu adalah bentuk alternatif sekolah sebagai hasil dari desentralisasi
pendidikan.
Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis
sekolah dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih
besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan Pengambilan Kebijakan
partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (Pendidik,
Peserta didik, kepala sekolah, karyawan, orang tua Peserta didik, dan
masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan
nasional. Lebih lanjut istilah manajemen sekolah seringkali disejajarkan dengan
administrasi sekolah.
Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan diatas
dapat disimpulkan bahwa; pertama, mengartikan administrasi lebih luas dari pada
manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi); kedua, melihat
manajemen lebih luas dari pada administrasi (administrasi merupakan inti dari
manajemen); dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan
administrasi. Dalam perbedaan pendapat penulis harus mensikapi dengan bijak dan
mengambil pendapat yang penulis anggap benar dan penulis gunakan sebagai
referensi dalam menentukan pemahaman penulis.
2. Konsep
Manajemen Sekolah Bermutu
Pada konsep Manajemen Sekolah bermutu, manajemen
hubungan sekolah dengan orang tua wali murid diharapkan berjalan dengan selaras
dan beriringan. Hubungan yang harmonis membuat masyarakat memiliki tanggung
jawab untuk memajukan sekolah. Penciptaan hubungan tersebut akan memberikan
gambaran yang jelas kepada masyarakat dan stakeholder. Gambaran yang jelas
dapat diinformasikan kepada masyarakat umum melalui laporan kepada orang tua
wali murid, kunjungan ke sekolah, kunjungan ke rumah murid, penjelasan dari
staf sekolah, dan laporan tahunan sekolah.
Melalui hubungan yang harmonis diharapkan tercapai
tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu proses pendidikan terlaksana
secara produktif, efektif, dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang
produktif dan berkulitas. Lulusan yang berkualitas akan terlihat dari
penguasaan/kompetensi murid tentang ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang dapat dijadikan bekal ketika terjun di tengah-tengah masyarakat.
Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen dan
administrasi mempunyai fungsi yang sama, yaitu:
a. merencanakan(planning),
b. mengorganisasikan
(organizing),
c. mengarahkan
(directing),
d. mengkoordinasikan
(coordinating),
e. mengawasi
(controlling),
f. dan
mengevaluasi (evaluation).
Adapun Tujuan Manajemen Sekolah Bermutu secara umum,
sebagaimana berikut:
a. Mutu
pendidikan yang berkualitas yaitu melalui kemandirian sekolah dan inisiatif
sekolah dalam megelola dan memberdayakan sumber daya yang ada,
b. Sinergitas
warga sekolah dan masyarakat yang baik dalam penyelenggaraan pendidikan melalui
pengambilan Kebijakan bersama,
c. Meningkatkan
tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang
mutu sekolahnya,
d. kompetisi
mutu anatr sekolah yang sehat untuk barometer mutu pendidikan yang sesuai
dengan perkembangan saat ini.
Selain
itu, Manajemen Sekolah Bermutu akan memberikan beberapa manfaat diantaranya:
a. Sekolah
dapat menyesuaikan dan meningkatkan kesejahteraan Pendidik dan tenaga pengajar
sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya sebagai pendidik,
b. Memiliki
keleluasaan untuk pengelolaan sumberdaya dan penyertaan masyarakat dalam
berpartisipasi di sekolah, serta mendorong profesionalisme sivitas akademika
yang ada disekolah, dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah,
c. Pendidik
didorong untuk berinovasi,
d. Rasa
tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan
pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik.
B. Prinsip
Manajemen Berbasis Sekolah
Dalam
mengembangkan sekolah perlu adanya Teori dan konsep yang matang dan terencana
untuk digunakan dalam mengelola sekolah. Pengembangan tersebut didasarkan pada
empat prinsip, yaitu:
1. Equifinality
Prinsip
ini berdasarkan teori modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa metode yang
berbeda dalam pencapaian tujuan. Manajemen sekolah bermutu lebis menekankan
fleksibilitas. Untuk itu sekolah wajib mandiri dan mengelola seluruh
aktifitasnya bersama warga sekolah menurut kondisi mereka masing-masing. Karena
rumitnya job deskription sekolah saat ini dan adanya perbedaan yang signifikan
antara sekolah satu dengan yang lainnya, contoh konkritnya adalah perbedaan
input peserta didik, sarana prasarana dan situasi akademik sekolah, sekolah
tidak dapat dijalankan dengan struktur yang sama di seluruh kota, provinsi,
apalagi Negara.
Pendidikan
sebagai komunitas yang sangat fleksibel dan terbuka terhadap berbagai perubahan
yang terus berkembang. Oleh itu, tidak diragukan lagi bila sekolah akan
mendapatkan berbagai masalah seperti halnya institusi umum lainya.
Tantangan
tersebut harus dijawab dengan tuntas oleh sekolah. Sekolah harus mampu
memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya dengan cara yang paling tepat
dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Walaupun sekolah satu mungkin
memiliki masalah yang sama, cara penyelesaiannya akan berbeda antara sekolah
satu dengan sekolah yang lainnya.
2. Decentralization
Desentralisasi
adalah gejala yang penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. Prinsip
desentralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinaltias. Prinsip
desentralisasi dilKitasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan
aktivitas pengajaran tak dapat dielekakan dari kesultian dan permasalahan.
Pendidikan adalah masalah yang rumit dan kompleks sehingga memerlukan
desentralisasi dalam pelaksanaannya.
Prinsip
ekuifinalitas yang dikemukakan sebelum mendorong adanya desentralisasi
kekuasaan dengan mempersilahkan sekolah memiliki ruang yang lebih luas untuk
bergerak, berkembang, dan bekerja menurut strategi-strategi unik mereka untuk
menjalani dan mengelola sekolahnya secara efektif.
Oleh
karena itu, sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab untuk memecahkan
memecahkan masalahnya secara efektif dan secepat mungkin ketika masalah itu
muncul. Dengan kata lain, tujuan dari prinsip desentralisasi adalah efisiensi
dalam pemecahan masalah, bukan menghindari masalah. Oleh karena itu, manajemen
sekolah bermutu harus mampu menemukan masala, memecahkannya tepat waktu dan
memberi sumbangan yang lebih besar terhadap efektivitas pengajaran dan
pembelajaran. Tanpa adanya desentralisasi kewenangan sekolah tidak dapat
dilakspeserta didikan dan akan berakibat terlambatnya pemecahan masalah secara
cepat, tepat, dan efisien.
3. Self-Management
System
Manajemen
sekolah bermutu perlu mencapai tujuan-tujuan berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan,
tetapi terdapat berbagai metode-metode yang berbeda dalam mencapainya.
Manajemen sekolah yang bermutu harus menyadari bahwa pentingnya mempersilahkan
sekolah menjadi sistem pengelolaan secara mandiri di bawah kebijakannya
sendiri. Sekolah memiliki otonomi tertentu untuk mengembangkan tujuan
pengajaran strategi manajemen, distribusi sumber daya manusia dan sumber daya
lainnya, memecahkan masalah, dan mencapai tujuan berdasarkan kondisi mereka
masing-masing sesuai dengan SDM dan kemampuannya. Karena sekolah dikelola
secara mandiri maka sekolah lebih memiliki inisiatif dan tanggung jawab
sendiri.
Prinsip
ini terkait dengan prinsip sebelumnya, yaitu prinsip ekuifinalitas dan prinsip
desentralisasi. Ketika sekolah menghadai permasalahan maka harus diselesaikan
dengan caranya sendiri. Sekolah dapat menyelesaikan masalahnya bila telah
terjadi pelimpahan wewenang dari birokrasi di atasnya ke tingkat sekolah.
Dengan adanya kewenangan di tingkat sekolah itulah maka sekolah dapat melakukan
sistem pengelolaan mandiri.
4. Human
Initiative
Perspektif
sumber daya manusia menekankan bahwa orang adalah sumber daya berharga di dalam
organisasi sehingga poin utama manajeman adalah mengembangkan sumber daya
manusia di adalam sekolah untuk berinisitatif. Berdasarkan perspektif ini maka
Manajemen Sekolah bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai untuk warga
sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya. Oleh
karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dapat diukur dari perkembangan
aspek sumber daya manusianya.
Prinsip
ini mengakui bahwa manusia bukanlah sumber daya yang statis, melainkan dinamis.
Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus selalu digali, ditemukan,
dan kemudian dikembangkan. Sekolah dan lembaga pendidikan yang lebih luas tidak
dapat lagi menggunakan istlah staffing yang konotasinya hanya mengelola
manusia sebagai barang yang statis. Lemabga pendidikan harus menggunakan
pendekatan human resources development yang memiliki konotasi dinamis
dan aset yang amat penting dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
Referensi
Nur, Muhammad. Cut Zahri Harun. Sakdiah
Ibrahim. Manajemen Sekolah dalam
Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jurnal Administrasi Pendidikan : Volume 4,
No. 1, Februari 2016.
Nurdyansyah. Andiek Widodo. Manajemen Sekolah Berbasis ICT. (
Siduarjo : Nizamia Learning Center , 2017)
Rahmania Utari, Manajemen Sekolah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar