Jumat, 01 Oktober 2021

Cerita Kuliah Online dan harapan kedepannya

 


Nama : Hafizin Alzam

NIM : 11901351

Dosen Pembimbing Akademik : Farninda Aditya, M.Pd.

2019 merupakan tahun pertama saya melanjutkan studi saya dari Madrasah Aliyah Insan Cendekia (MAN IC) Sambas ke Salah satu perguruan tinggi negri di Pontianak yaitu Insitut Agama Islam Negri (IAIN) Pontianak. Di IAIN Pontianak saya mengambil prodia Pendidikan Agama Islam.

Pada bulan pertama Setelah saya memasuki kampus IAIN Pontianak, saya banyak di hidangkan berbagai macam organisasi baik itu Internal maupun Eksternal kampus. Setelah menyelesaikan perundingan dengan diri saya, saya pun memilih HmI sebagai organisasi eksternal kampus dan KSR sebagai organisasi eksternal kampus.

HmI merupan organisasi di luar kampus yang saya pilih, tentu saja karena organisasi tersebut adalah organisasi Islam dan juga banyak menyajikan Ilmu untuk mengupgrade diri ke tahap yang lebih baik, seperti saya sering di ikut sertakan menjadi panitia dan menjabat sebagai anggota maupun bidang PDD yang merupakan salah satu bidang tentang fotografer, editing, dekor. Kemudian dengan hal itulah saya kerap di ikut sertakan dan juga di amanahkan untuk membuat pamflet dan hal-hal sebagainya sehingga dengan terus ikut serta dalam acara-acara. Saya yang dulunya sama sekali tidak mengenal dan bahkan tidak tahu membuat hal semacam itu dan sekarang sesikit demj sedikit saya tau, saya juga bersyukur kadang kala tugas yang diberikan sangatlah berat sehingga saya berfikir bahwa hal itu tidak dapat saya selesaikan tapi saya yakin bahwa allah tidak akan memberatkan hambanya dan allah tidak akan memberikan ujian kecuali hambanya itu mampu melaksankannya. Kemudian melaui hal itulah tugas tugas saya di bidang PDD dapat terselesaikan dan alhamdulillah menjadikan saya menjadi sedikit mahir melakukannya karena sudah biasa mengerjakannya dan rutin melaksanakannya. Melalui bidang tersebut juga saya dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif agar karya yang di hasilkan menjadi lebih menarik dan sedao dipandang mata. Hal tersebut lah yang menjadikan fikiran dan otak saya menjadi sedikit lebih bekerja.

kemudian organisasi internal kampus yang saga pilih yaitu UKK KSR PMI Unit IAIN Pontianak. Mengapa saya pilih organisasi KSR PMI ? karena pada saat menmpuh pendidikan di tingkat SMA yaitu MAN Insan Cendekia Sambas disitu saya mengikuti ekskul PMR (Palam Merah Remaja). Di PMR tersebutlah saya sudah sangat menikmati proses dan juga kegiatan kegiatan ala ala medis tersebut agar bisa membantu orang orang yang memutuhkan ketika terjadi bencana, kecelakan, musibah yang dialami orang tersebut terutama orang yang paling dekat dengan kita, orang yang paling kita sayangi. Kemudian hal itulah yang menjadikan motivasi saya untuk tumbuh berkembang untuk membantu sesama mahluk hidup allah. UKK KSR merupakan organisasi eksternal kampus yang saya pilih. Pada saat 2019 yaitu awal saya memasuki dunia perkuliahan saya sudah menetapka untuk masuk dan berkecimpung dalam organisasi tersebut namun allah berkehendak lain. Pada saat itu diklat di KSR dan LK-1 di HmI sangaf bertempuran tapi cuman sekali pertemun saya absen di diklat yang diadakan KSR Unit IAIN Pontianak adakan , kemudian hal itu yang menjadikan sedikit kurang semangaf untuk melanjutkan minat saya. Namun pada tahun 2020 KSR mengadakan atau merekrut anggota baru lagi dan pada tahun itulah saya masuk dan mulai melalui tahap demi tahap yang KSR PMI Unit IAIN Pontianak adakan, pada saat itu covid-19 sudah ada jadi biasanya saya ikut diksar online kadang juga offline, saya kepontianak hanya karena ingin ikut serta dan belajar dalam diklat yang ksr pmi unit IAIN Pontianak adakaen dan alhamdulillah tahap tersebut dapat saya selesaikan dengan sangat menguras tenaga dan energi saya. Kemudian setelah diklat ada yang namanya pra diksar dan diksar. Di Pra diksar disitu saya dilihatkan bagaimana tantangan dan tahap untuk mengikuti diksar. Saya banyak sekali belajar bahwa yang pertama kita harus lebih teliti dan hati-hati dalam menangani korban, dan juga harus cerdas karena apa ? karena pada saat itu korban yang hanga patah tangan kami bawa ketandu dan hal itulah menjadikan kami kewalahan dan menguras tenaga. Sehingga tenaga kami habis karena tidak berfikir sebelum bertindak. Dan alhamdulillah itu merupakan pelajara yang sangat saya rasakan dan penting bagi diri saya. 

Alhmdulillah di organisasi baik itu internal maupun eksrernal kampus menjadikan diri saya lebih terupgrade. Dan ada satu hal yang sangat penting bagi saya yaitu kerja sama merupakan elemen penting dalam hidup kita, karena manusia pasti akan membutuhkan bantuan manusia lain untuk melengkapi kekurangan ataupun membatu dirinya dan dalam organisaisi terebut banyak saya dapatkan.

2019 kemaren saya berada dibangku kelas G untuk semester pertama dan untuk semester ketiga nya saya juga memilih kelas G. Pada saat itu pandemi masuh covid – 19 belum ada dan hal itu membuat perkuliahan kami terasa benar benar kuliah, karena apa ? karena kami pergi ke kampus memakai bajh rapi, mandi, begegas ke kampus...namun hal itu nerbeda setelah datangnta covid – 19 saya kyliah bisasanya tidak mandi, tidak datang ke kamous hanga duduk dirumah...minggu pertama saya lewati dengan sangat gembira karena kita hanya kuliah di depan komputer atau laptop sambil rebahan, buat kapi sambil ngemil kadang juga ketiduran sampai jam akhir. Namun hal itu sangat sangat membosankan bagi saya karena hal tersebut terus berulang setiap hari seperti tidaj ada rasanya bumbu bumbu perkuliahan namun UKT terus dibayar secara normal dengan tidak adanya dispensasi karena covid – 19. Namun ada segi positif dan negatifnya nelalui perkuliahan onlie ini yang pertama uang keseharian kita untuk menjalani hidup di pontianak sedikit berkurang hal tersebut dapat menjadikan saya terus menabung dan berinvestasi untuk masa depan tau jangka panjang, menengah maupun singkat. 

Oh iya ges ketika atau saat kami memulai perkulihan di semester 3 saya mengambil salah satu makul di kelas lain, hal tersebut say sengaja karena untuk mendapatkan teman di kelas lain, agar teman teman saya menjadi banyak dan juga untuk mencari jaringan agar nanti dimada depan teman teman itulah yang dapat saya andlkan ketika di butuhkan baik itu saat suasana hatu kita tidak sedang baik baik saja maupun hidup kita tidak sedang tidak baik baiak saja dan ada juga teman yg biasanya kita butuhkan namun ketika dunia menbutuhkannya dia mengjilang seperti gafatar ya ges, rh maksud saya avatar...ketika saat dunia perkuliahan membutukannya teman juga bisa di andalakan , namun pada saat itu ketika salah satu makul saya berada di kelas lain selain kelas G, saat itu ketika pertemuan pertama dunia sedang baik baik saja dan barulah setelah pertemuan kedua atau ketiga dunai sedang tidak baik baik saja yaitu adanya bencana covid – 19 . kemudian hal tersebutlah yang menjadiakan peruliahan kamu di liburkan, namun libur bukan untuk libur selamanya hanya 2 minggu setelah itu masuk seperti biasa kembali, kemudian setelah berjalan dan selesainya 2 mnggu kami tetap menjalankan libur kuliah namun bukan untuk libur mata kuliahnya tetapi libur untuk datang kekampus yang menjadikan perkuliahan kamu yang awal nya tatap muka menjadi tatap didurmah atau online dalam bahasa sambas nya.dan saya ingat sekali tentang libur 2 minggu tersebut yang sekarang telah menjadi 2 tahun ges, sangat bentar sekali...terimakasi covid yang telah menjadikan kami balajar online namun tetap rabahan tanpa mandi tanpa cuci muka, tanpa sikat gigi, anpa bangkit dari rebahab kami...hal tersebut menjadikan kami terbiasa dan menikmati prosesnye insyaalla sampai wisuda. Seperti kata peoatah sesambas bilang sekali majam langsong lakak, maksudnya apabila di artikan atau di buat pada maasa perkuliahan yang kami rasakan seperi...baru masuk hari ini malamnya tidur dan besok sudah wisuda ketika membuka mata. Nah pada  saat saya memasuku kelas selain kelas G ternyata ekspektasi saya tidak sesuai realita kawan kawan baru di kalas lain dan pada saat itu online alhasil saya merasa canggung untuk berkenalan apalagi sampaj mananyakan materi hal itu lah yang menbuaf nilai saya jeles dan saya harus mengulang di semester ganjil selanjutnya...disini saya belajar nahwa kawan meerupakan sesuatu yang penting dan disini saya tahu bahwa kawan lama yang telah kita kenal baik akan sangat berarti bagi hidup kita, karena kita dengan mudah dan tanpa canggung meminta tugas atau sharing ilmu yang telah di pelajari...

Dalam berorganisasi dan kelas banyak sekali pelqjaran penting bagi hidup saya yaitu tentang pertemanan, berteman lah seperti saudara agar kita saling atau bisa saling sayang menyayangi dan saling mengasih mengasihi kunci jawaban wkwkwk... “Awalnya memang kesusahan sampai akhirnya bisa berjalan lancar dan lama-lama terbiasa tetapi dirasa kurang efektif karena tidak ada interaksi yang muncul secara intens. Sisanya banyak hal positif yang bisa diambil dari kuliah online, kelebihan dari kuliah online adalah waktu yang lebih fleksibel sehingga tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk telat. Belajar pun jadi semakin mudah karena bisa di mana saja.

“Tugas yang dikasih juga lebih bervariasi mulai dari bikin paper, sampai ke video kreatif, jadi melatih kreativitas mahasiswa sesuai mata kuliah. kendala jaringan internet adalah kekurangan utama dari kuliah online ini, pasalnya tidak semua dosen dan mahasiswa memiliki jaringan internet yang stabil dan itu dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar khususnya saya yang orang asli sambas tepatnya di daerah piantus dusun kenanai kecamatan sejangkung, di daerah saya sangat kekurangan sinyal biasanga dosen mengadakan rapat atau pertmuan melalui zoom, google meet dan hal itu membuat wajah kawan kawan saya jadi jeles (jelek dan tidak jelas) tapi tidak dengan saya, ya memang karena saya tamvan dan pemberani. Biasnya dosen menyampaikan menjadi hiburan tersendiri bagi saya karena saya suka sekali dengan musik ref, ya memang kuliah online begitu siapa saja yang mengomong atau berbicara di layar ponesel saya yang tadi nadanya biasa saja menjadi lantunan reff ala ala karena kadang bunyi remix yang nyangkut nyangkut bangkan putus putus seperti dag dig dug... eeeh bukan dag dig dug gea, jedag jeduug. Ya seperti itulah keseruan kuliah online yang saya rasakan.


Kuliah online jugaa memungkinkan ada mahasiswa yang tidak sepenuhnya menghadiri kelas. Yaaa banyaj darj teman teman saya karena merasa kuliah online tinggal buka zoom lalu lanjut tidur dan bhakan ada yang ke bablasan tidurnya karena dia kuliah di dalam dunja khayal yaitu di alam bawah sadar, dunia mimpi. Tapi  beuntung bagi saya pada saat semester 4 saya pindah kelas yang lain lagi namun bedanya saya pindah tidak setangah setangah, yaa saya full masuk kelas tersebut, full maksudnya gimana ? ya saya mengambil 24 sks di kelas tersebut dan merupakan mencakup seluruh makul atau mata kuliah pada semester tersebut....t ujuan saya pindah masih untuk mencari relasi atau jaringan agar teman teman saya semakin bertambah... namun di kelaa yang saya pindahi ini atau baru saya tempati disana saya mendapatkan teman yang sangat perhatian yang rela memberi tahu tugas apa untuk besok, dia sudah memberi tahu sebelum tugas itu jatuh tempo di hari H.dia memberi tahu tanpa paksaan itulah yang membut saya betah untuk menetap di kelaa terseebut yang saya tempati  mereka juga sering mengingatkan tentang perkuliahan di mulai, ketia saya sedang ketiduran mereka tanpa disuruh dan dengan iklas menelepon untuk memberitahu bahawa di detik tersebut ada mata kuliah yang sedang berlangsung. Disinilah tujuan saya tercapai dan bahkan mendapatkan plus tambahan kawan yang berkualitas untuk maju kedepan....tetapi ada satu teman saya yang sata rasa menjdi benalu dia memknta tugas dengan saga terua menerus, langsung di copas atau jiplak tanpa di esit dengan langaung dikirim langsung ke dosen, hal teraebut membuat saya khawatir nantinya dosen mengetahui bahwa kawan saya menjiblak atau yang lebih parah saya di tuduh menjiplak drngan tugas saya yang saya kerjkan sensdiri dengan penuh rasa tanggung jawab, takut, gelisah semangat, air mata dan juga air kelapa yang saya habis kan untuk mengiai atau mengerkakan tugas dari dosen sesuai mata kuliah yang di laksanakan.....saya khawarir juga mengenai kawan sata inj, dia hanya sekedar absen tidak belajar dengan sepenug hati atua bahkan tidak belajar, bagaimna mau sepenug hati kalau kuliah hanya setenga hatu atau bahkan tidak pakai hati dan ini pantas mendapatkan nilai yang menyayat hati. Oh iya ges ketika atau saat kami memulai perkulihan di semester 3 saya mengambil salah satu makul di kelas lain, hal tersebut say sengaja karena untuk mendapatkan teman di kelas lain, agar teman teman saya menjadi banyak dan juga untuk mencari jaringan agar nanti dimada depan teman teman itulah yang dapat saya andlkan ketika di butuhkan baik itu saat suasana hatu kita tidak sedang baik baik saja maupun hidup kita tidak sedang tidak baik baiak saja dan ada juga teman yg biasanya kita butuhkan namun ketika dunia menbutuhkannya dia mengjilang seperti gafatar ya ges, rh maksud saya avatar...ketika saat dunia perkuliahan membutukannya teman juga bisa di andalakan , namun pada saat itu ketika salah satu makul saya berada di kelas lain selain kelas G, saat itu ketika pertemuan pertama dunia sedang baik baik saja dan barulah setelah pertemuan kedua atau ketiga dunai sedang tidak baik baik saja yaitu adanya bencana covid – 19 . kemudian hal tersebutlah yang menjadiakan peruliahan kamu di liburkan, namun libur bukan untuk libur selamanya hanya 2 minggu setelah itu masuk seperti biasa kembali, kemudian setelah berjalan dan selesainya 2 mnggu kami tetap menjalankan libur kuliah namun bukan untuk libur mata kuliahnya tetapi libur untuk datang kekampus yang menjadikan perkuliahan kamu yang awal nya tatap muka menjadi tatap didurmah atau online dalam bahasa sambas nya.dan saya ingat sekali tentang libur 2 minggu tersebut yang sekarang telah menjadi 2 tahun ges, sangat bentar sekali...terimakasi covid yang telah menjadikan kami balajar online namun tetap rabahan tanpa mandi tanpa cuci muka, tanpa sikat gigi, anpa bangkit dari rebahab kami...hal tersebut menjadikan kami terbiasa dan menikmati prosesnye insyaalla sampai wisuda. Seperti kata peoatah sesambas bilang sekali majam langsong lakak, maksudnya apabila di artikan atau di buat pada maasa perkuliahan yang kami rasakan seperi...baru masuk hari ini malamnya tidur dan besok sudah wisuda ketika membuka mata. Nah pada  saat saya memasuku kelas selain kelas G ternyata ekspektasi saya tidak sesuai realita kawan kawan baru di kalas lain dan pada saat itu online alhasil saya merasa canggung untuk berkenalan apalagi sampaj mananyakan materi hal itu lah yang menbuaf nilai saya jeles dan saya harus mengulang di semester ganjil selanjutnya...disini saya belajar nahwa kawan meerupakan sesuatu yang penting dan disini saya tahu bahwa kawan lama yang telah kita kenal baik akan sangat berarti bagi hidup kita, karena kita dengan mudah dan tanpa canggung meminta tugas atau sharing ilmu yang telah di pelajari...

Dalam berorganisasi dan kelas banyak sekali pelqjaran penting bagi hidup saya yaitu tentang pertemanan, berteman lah seperti saudara agar kita saling atau bisa saling sayang menyayangi dan saling mengasih mengasihi kunci jawaban wkwkwk... “Awalnya memang kesusahan sampai akhirnya bisa berjalan lancar dan lama-lama terbiasa tetapi dirasa kurang efektif karena tidak ada interaksi yang muncul secara intens. Sisanya banyak hal positif yang bisa diambil dari kuliah online, kelebihan dari kuliah online adalah waktu yang lebih fleksibel sehingga tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk telat. Belajar pun jadi semakin mudah karena bisa di mana saja.

Untuk mengatasi berbagai hambatan yang dirasakan saya sering keluar untuk mengerjakan tugas biasanya di rumah kawan kawan dan juga di cafe terjauh darj saya dan terdekat untuk kawan saya.biasanya kami sharing aharing dan juga sering sering mengerjakan tugas. Bersama sama. Kamj juga sering mengadakan meet up bahkan pergi liburan bersama sama untuk menambah atau mempererat tali tambang, eeh tali silaturahmi maksud saya... 

Harapan saya kedepanya perkuliahan dimulai lagi secara tatap muka sehingga komunikasi antar mahasiswa dan dosen terjalin dengan baik sehingga dampak buruk berupa miss komunikasi tidak terjadi, dan juga kalau kuliah online masih berjalan sampai nanti bila waktunya telah selesai. Tidak  tahu kapan itu kapan pandemi berakhir...saya berharap dosen tidak terlalu membebani mahasiswanya dengan tugas tugas yang sangaaaaaaaaaaat luar biasa banyaknya. Bayangkan saja satu makul dosen memberikan tugas di tiap akhir mata kuliahnya...dan bayangkan bagaimana dan kapan tugas itu di laksanakan atau di kerjakan selain setelah waktu matakuliah berakhir...waduuh capeknya ya ges, dan itu lah yang terjadi lada awal pandemi kemaren. Dosen seman mena memberikan tugas tanpa memikirkn nasib mahasiswanya, cukup mahasiswinya saja. yang kesusahan sinyal di kampung, yang harus mendaki gunung melewati lembah dan itu mereka lakukan demi tugas yang tidak terlalu dikoreksi oleh dosennya...sampai ada mahaswanya meniggal demi mengerjakan tugas dosen yang harus tepat waktu, harus good seperti dewa... Harapannya sih dosen dan tenaga akademik harus di-briefing lebih lanjut mengenai perkuliahan online agar perkuliahan online tidak amburadul seperti sekarang ini, universitas lain sudah ujian tengah semester namun di IAIN masih libur, harapan saya ya begitulah agar masuk maupun liburnya di samakan agaar nantinya waktu liburan atau refresing kami bisa bersama sama dengan mahasiswa lain di luar lingkungan Insitut Agama Islam Negeri Pontianak. Lebih bagus lagi kalau kita buru-buru offline atau tatap muka supaya semua kegiatan makin efektif khususnya kegiata kegiatan yang menjadi dukungan atau penyokong minat mahasiswa tak lupa mahasiswi juga. Saya rasa sih biasa saja menabggapi persoalan covid-19 ini, cera tersebut merupakan cara yang nerupakan cara yang efektif untuk mencegah agar pandemi covid-19 tidak menyebar luas, itu karena jika kita panis maka imun dalam tubug kita juga akan melemah dan hal itulah yang menyebabkab kekebal tubuah kita tertembus oleh covid-19. Semoga kita bisa melanjutkan perkuliahan melalui tatap muka seperti kuliah pada umumnya di dalam ruang kelas yang relll benar benar kelas tanpa adanya perantara zoom, google meet maupun wa grup. Tapi kalau kampus tetap mengadakan perkulian secara onlien, semoga saja kampus bisa menjediakan atau memfasilitasi sistem perkuliahan yang lebih efektif dan efesian dalam pembelajaran khususnya perkuliahab obline yang di rasakan pada saat ini. Hal itu agar mahasiswa dan tentunya dosen lebih merasa nyaman saat belajar atau mengajar dalam proses belajar mengajar khususnya online yang di radakan srkarang ini, dan semoga kita. Semua sehat selalu dan tidak ada lagi avatar ( saat di butuh eeeh malah menghilang. Terimasih ges telah membuka cerita saya ini tentang perkuliahan online semoga .....(isi ya ges titik titik nya). Aamiin. Semoga dunia membaik, aamiin.


Minggu, 04 Juli 2021

macam macam kurikulum yang pernah di gunakan dalam pendidikan di indonesia

 Hafizin Alzam


Secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani yaitu curir yang artinya “pelari” dan curene yang berarti “tempat berpacu”. Istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga, terutama dalam bidang atletik pada zaman Romawi Kuno di Yunani. Dalam bahasa Prancis, istilah kurikulum berasal dari kata courier yang berarti berlari (to run). Kurikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai dengan garis finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. Jarak yang harus di tempuh tersebut kemudian diubah menjadi program sekolah dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Program tersebut berisi mata pelajaran (courses) yang harus ditempuh oleh peserta didik selama kurun waktu tertentu, seperti SD/MI (enam tahun), SMP/MTs (tiga tahun). SMA/MA (tiga tahun) dan seterusnya. Dengan demikian, istilah kurikulum (dalam pendidikan) adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh ijazah.

Kurikulum adalah program rancangan belajar mengajar yang dipedomani oleh pendidik dan peserta didik. Dari peran yang sangat strategis dan fundamental dalam berjalannya pendidikan yang baik maka kurikulum memiliki peran dalam pencapaian tujuan karena baik atu tidaknya suatu kurikulum dilihat dari proses dan hasil pencapaian yang telah ditempuh.

Kurikulum menurut Ronald C. Doll, merupakan perencanaan yang ditawarkan bukan yang diberikan, oleh karenanya pengalaman yang diberikan guru belum tentu ditawarkan. Dengan demikian seluruh konsep pendidikan di sekolah dapat dan harus ideal. Kurikulum harus membicarakan tentang keharusan dan bukan kemungkinan. Kemudian bimbingan dan arahan tidak saja tugas dan kewajiban guru tetapi menjadi kewajiban sekolah yang komponennya tidak hanya sekedar guru, tetapi juga kepala sekolah, karyawan dan unsur lain yang terkait dengan pendidikan.

selain itu Kurikulum diartikan dengan suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Ada ungkapan menggelitik yang acapkali muncul seiring perubahan penguasa negeri ini yakni “ganti menteri ganti kurikulum”, nyatanya dalam perjalanan sejarah sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional memang telah berulangkali mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968,1975, 1984, 1994, dan 2004, 2006 serta yang terbaru adalah kurikulum 2013.

Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.

1. Kurikulum 1947, “Rentjana Pelajaran 1947”

Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah dalam bahasa Belanda “leer plan” artinya rencana pelajaran, istilah ini lebih popular dibanding istilah “curriculum” . Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan “Rentjana Pelajaran 1947”, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: (1) daftar mata pelajaran dan jam pengajaranya; (2) garis-garis besar pengajaran.

Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Orientasi Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang diutamakan adalah: pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

2. Kurikulum 1952, “Rentjana Pelajaran Terurai 1952”

Setelah “Rentjana Pelajaran 1947”, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian diberi nama “Rentjana Pelajaran Terurai 1952”. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajarannya menunjukkan secara jelas bahwa seorang guru mengajar satu mata pelajaran, (Djauzak Ahmad, Dirpendas periode1991-1995).

3. Kurikulum 1964, “Rentjana Pendidikan 1964”

Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan. pada program Pancawardhana. , yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/ artistik, keprigelan, dan jasmani. Ada yang menyebut Panca wardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

4. Kurikulum 1968

Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Dalam kurikulum ini tampak dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Mata pelajaran dikelompokkan menjadi 9 pokok. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. "Hanya memuat mata pelajaran pokok saja," . Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

5. Kurikulum 1975

Kurikulum 19755 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien. latar belakangi lahirnya kurikulum ini adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu," Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah "satuan pelajaran", yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.

6. Kurikulum 1984, “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”.

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut "Kurikulum 1975 yang disempurnakan". Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolahsekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Akhiran penolakan CBSA bermunculan.

7. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Sayang, perpaduan antara tujuan dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompokkelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi pelajaran saja.

8. Kurikulum 2004, “KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)”

Sebagai pengganti kurikulum 1994 adalah kurikulum 2004, yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)6. Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu: pemilihan kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi; dan pengembangan pembelajaran. KBK memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. Struktur kompetensi dasar KBK ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian. Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?”

9. Kurikulum 2006, “KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)”

Pelaksanaan KBK masih dalam uji terbatas, namun pada awal tahun 2006, uji terbatas tersebut dihentikan. Dan selanjutnya dengan terbitnya permen nomor 24 tahun 2006 yang mengatur pelaksanaan permen nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi kurikulum dan permen nomor 23 tahun 2006 tentang standar kelulusan, lahirlah kurikulum 2006 yang pada dasarnya sama dengan kurikulum 2004. Perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem pendidikan. Pada kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran, dihimpun menjadi sebuah perangkat yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP menjadi tanggung jawab sekolah di bawah binaan dan pemantauan dinas pendidikan daerah dan wilayah setempat.

10. Kurikulum 2013

Pemerintah melakukan pemetaan kurikulum berbasis kompetensi yang pernah diujicobakan pada tahun 2004 (curriculum based competency). Kompetensi dijadikan acuan dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan; pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Kurikulum 2013 berbasis kompetensi memfokuskan pada pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaianya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan. Kegiatan pembelajaran perlu diarahkan untuk membantu peserta didik menguasai sekurang-kurangnya tingkkat kompetensi minimal, agar mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Sesuai dengan konsep belajar tuntas dan pengembangan bakat. Setiap peserta didik harus diberi kesempatan untuk mencapai tujuan sesuai dengan kemamapuan dan kecepatan belajar masing-masing. Tema utama kurikulum 2013 adalah menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif, melalui pengamatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, dalam implementasi kurikulum, guru dituntut secara profesional merancang pembelajaran secara efektif dan bermakna, mengorganisir pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara efektif, serta menetapkan kriteria keberhasilan.

 

Daftar Pustaka

Alhammuddin. Sejarah Kurikulum di Indonesia (Studi Analisis Kebijakan Pengembangan Kurikulum): Nur El-Islam, Volume 1, Nomor 2, Oktober 2014

Wirianto, Dicky. Prespektif Histori Transformasi Kurikulum di Indonesia: Islamic Studies Journal | Vol. 2 No. 1 Januari - Juni 2014

 


Pengertian Perangkat Pembelajaran

 Hafizin Alzam


Perangkat pembelajaran merupukan hal yang harus disiapkan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Dalam KBBI (2007: 17), perangkat adalah alat atau perlengkapan, sedangkan pembelajaran adalah proses atau cara menjadikan orang belajar. Menurut Zuhdan, dkk (2011: 16) perangkat pembelajaran adalah alat atau perlengkapan untuk melaksanakan proses yang memungkinkan pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran menjadi pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium atau di luar kelas. Dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa penyusunan perangkat pembelajaran merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu pada standar isi. Selain itu, dalam perencanaan pembelajaran juga dilakukan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian, dan skenario pembelajaran.

Silabus

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan bahwa silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran.

Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menegah sesuai dengan pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu. Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus untuk mata pelajaran SMA secara umum berisi: 

  1. Identitas mata pelajaran
  2. Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas
  3. Kompetensi inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk semua jenjang pendidikan, kelas dan mata pelajaran.
  4. Kompetensi dasar, berkaitan dengan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran.
  5. Materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi
  6. Pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan
  7. Penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.
  8. Alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur kurikulum untuk satu semester atau satu tahun, dan
  9. Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan.

RPP

Menurut Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran, bahwa tahap pertama dalam pembelajaran menurut standar proses yaitu perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Selanjutnya dijelaskan bahwa RPP adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus. RPP mencakup beberapa hal yaitu: (1) Data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/ semester; (2) Materi Pokok; (3) Alokasi waktu; (4) Tujuan pembelajaran, KD dan indikator pencapaian kompetensi; (5) Materi pembelajaran; metode pembelajaran; (6) Media, alat dan sumber belajar / bahan ajar; (7) Langkah-langkah kegiatan pembelajaran; dan (7) Penilaian.

Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

Menurut Depdiknas (2007), LKS adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Tugas yang diperintahkan dalam LKS harus mengacu pada kompetensi dasar yang akan dicapai siswa. Tugas tersebut dapat berupa tugas teoritis dan tugas praktis (Abdul Majid, 2008: 176-177). LKS digunakan sebagai sarana untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik dan meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar-mengajar.

Instrumen Penilaian

Penilaian bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik. Dalam Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran dijelaskan bahwa penilaian dalam setiap mata pelajaran meliputi kompetnsi pengetahuan, kompetensi keterampilan dan kompetensi sikap. Penilaian dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil belajar dari masing-masing domain tersebut. Ada beberapa teknik dan instrumen penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan peserta didik baik berupa tes maupun non-tes antara lain tes tertulis, penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian hasil karya, penilaian portofolio dan penilaian diri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kusumaningrum, Sih. 2015. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran PjBL untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Kreativitas Siswa Kelas X. Tesis. Pascasarja UNY

Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Masitah, Pengembangan Perangkat Pembelajaran untuk Memfasilitasi Guru Menumbuhkan Rasa Tangung Jawab Siswa SD terhadap Masalah Banjir, Proceeding Biology Education Conference,  Volume 15, Nomor 1. Oktober 2018

Zuhdan Kun Prasetyo, dkk. 2011. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Sains Terpadu Untuk Meningkatkan Kognitif, Keterampilan Proses, Kreativitas serta Menerapkan Konsep Ilmiah Peserta Didik SMP. Program Pascasarjana UNY.


Apa Itu Strategi Pembelajaran

 Hafizin Alzam


A. Pengertian Strategi Pembelajaran

Strategi berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘strategia’ yang berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Secara umum strategi adalah alat, rencana, atau metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu tugas (Beckman, 2004: 1). Dalam konteks pembelajaran, strategi berkaitan dengan pendekatan dalam penyampaian materi pada lingkungan pembelajaran. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, lingkungan sekitar dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Strategi pembelajaran terdiri dari metode, teknik, dan prosedur yang akan menjamin bahwa peserta didik akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Miarso (2005), strategi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh pembelajaran dalam suatu sistem pembelajaran, yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafah dan atau teori belajar tertentu. Seels dan Richey (1994: 31) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rincian dari seleksi pengurutan peristiwa dan kegiatan dalam pembelajaran, yang terdiri dari metode-metode, teknik-teknik maupun prosedur-prosedur yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan.

Menurut Romiszowsky (1981) strategi dalam konteks kegiatan pembelajaran mengandung makna, yaitu untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar dengan memilih metode-metode yang dapat mengembangkan kegiatan belajar peserta didik secara lebih aktif. Pendapat yang hampir sama dikemukakan Dick dan Carey (1978: 106) yang mengatakan strategi belajar mengajar mencakup keseluruhan komponen pembelajaran yang bertujuan menciptakan suatu bentuk pembelajaran dengan kondisi tertentu agar dapat membantu proses belajar peserta didik. Sedangkan Semiawan (1996) berpendapat ditinjau dari segi proses pembelajaran strategi belajar mengajar merupakan proses bimbingan terhadap peserta didik dengan menciptakan kondisi belajar murid secara lebih aktif.

Secara umum strategi pembelajaran dapat dikatakan sebagai keseluruhan pola umum kegiatan pendidik dan peserta didik dalam mewujudkan peristiwa pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan, secara efektif dan efisien terbentuk oleh paduan antara urutan kegiatan, metode dan media pembelajaran yang digunakan, serta waktu yang digunakan pendidik dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

B. Komponen-Kompenen Strategi Pembelajaran

Dick dan Carey (1996: 184) menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran pendahuluan, penyampaian informasi, partisipasi peserta didik, tes dan kegiatan lanjutan.

1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan

Kegiatan pembelajaran pendahuluan memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Pada kegiatan ini pendidik diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi pelajaran yang akan disampaikan. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan dapat memotivasi peserta didik untuk belajar. Cara guru mempekenalkan materi pelajaran melalui contoh-contoh ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari atau cara guru menyakinkan apa manfaat mempelajari pokok bahasan tertentu akan sangat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik (Nurani, dkk.,2003: 1.9).

2. Penyampaian Infromasi

Dalam kegiatan penyampaian informasi, pendidik akan menetapkan secara pasti informasi, konsep, aturan, dan prinsip-prinsip apa yang perlu disajikan kepada peserta didik. Di sinilah penjelasan pokok tentang semua materi pembelajaran. Kesalahan utama yang sering terjadi pada tahap ini adalah menyajikan informasi terlalu banyak, terutama jika sebagian besar informasi itu tidak relevan dengan tujuan pembelajaran (Al Muchtar, dkk, 2007: 2.7). Di samping itu, pendidik harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi, yaitu urutan, ruang lingkup, dan jenis materi.

3. Partisipasi Peserta Didik

Partisipasi peserta didik sangat penting dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Nurani,dkk., 2003: 1.11). Terdapat beberapa hal penting yang terkait dengan partisipasi peserta didik, yaitu :

a.     Latihan dan praktik seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang suatu pengetahuan, keterampilan dan sikap.

b.     Umpan balik. Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku tertentu sebagai hasil belajarnya, maka pendidik memberikan umpan balik terhadap hasil belajar tersebut.

4. Tes

Ada dua jenis tes atau penilaian yang biasa dilakukan oleh kebanyakan pendidik, yaitu pretest dan posttest (Al Muchtar, 2007: 2.8). Secara umum tes digunakan oleh pendidik untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum dan apakah pengetahuan, keterampilan dan sikap telah benar-benar dimiliki peserta didik atau belum. Pelaksanaan tes biasanya dilaksanakan diakhir kegiatan pembelajaran setelah peserta didik melalui berbagai proses pembelajaran, yaitu penjelasan tujuan diawal kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi pembelajaran. Di samping itu, pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta didik melakukan latihan atau praktik (Nurani, dkk., 2003: 1.12).

5. Kegiatan Lanjutan

Kegiatan lanjutan atau follow up, secara prinsip ada hubungannya dengan hasil tes yang telah dilakukan. Karena kegiatan lanjutan esensinya adalah untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik (Winaputra, 2001: 3.43). Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik antara lain adalah sebagai berikut.

a.     Memberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah

b.     Menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik

c.     Membaca materi pelajaran tertentu

d.     Memberikan motivasi dan bimbingan belajar.

C. Prinsip Strategi Pembelajaran

Menurut Sanjaya setidaknya ada empat prinsip strategi pembelajaran, yaitu :

a.     Berorientasi pada tujuan. Dalam sistem pembelajaran, tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas pendidik dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat dilihat dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran

b.     Aktivitas. Belajar bukan hanya menghafal sejumlah fakta atau informasi, tapi juga berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

c.     Individualitas. Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun pendidik mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik.

d.     Integritas. Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta didik. Dengan demikian, mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga mengembangkan aspek afektif dan aspek psikomotor.

D. Macam-Macam Strategi Pembelajaran

Strategi pembelelajaran terdiri dari berbagai macam, diantaranya adalah strategi pembelajaran ekspositori, strategi pembelajaran inkuiri, strategi pembelajaran berbasis masalah, startegi pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran afektif, strategi pembelajaran konstekstual, strategi pembelajaran aktif, dan strategi pembelajaran quantum.

1. Strategi Pembelajaran Ekspositori

Menurut Sanjaya (2006: 177), strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang pendidik kepada sekolompok peserta didik dengan maksud agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Strategi pembelajaran ekspositori cenderung menekankan penyampaian informasi yang bersumber dari buku teks, referensi atau pengalaman pribadi.

Strategi pembelajaran ekspositori berlangsung melalui beberapa tahap sebagai berikut.

a.     Penyajian informasi. Penyajian informasi ini dapat dilakukan dengan ceramah, latihan, atau demonstrasi.

b.     Tes penguasaan dan penyajian ulang bila dipandang perlu.

c.     Memberikan kesempatan penerapan dalam bentuk contoh dan soal, dengan jumlah dan tingkat kesulitan yang bertambah.

d.     Memberikan kesempatan penerapan informasi baru dalam situasi dan masalah sebenarnya.

2. Strategi Pembelajaran Inkuiri

Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2006: 194).

Menurut Sanjaya (2006: 194-195), ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, yaitu :

a.     Strategi inkuiri menekankan keaktifan peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar.

b.     Seluruh kegiatan yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan sikap percaya diri.

c.     Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan  kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.

3. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang difokuskan kepada proses penyelesaian masalah/problema secara ilmiah. Problema tersebut bisa diambil dari buku teks atau dari sumber-sumber lain misalnya dari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga atau dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat.

Ada tiga karakteristik penting dari SPBM, yaitu :

a.     SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam pelaksanaan SPBM, peserta didik tidak hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi juga peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi mencari dan mengolah data, serta menyimpulkan.

b.     Aktivitas pembelajaran difokuskan untuk menyelesaikan masalah. Masalah harus ada dalam implementasi SPBM. Sebab tanpa adanya masalah dalam SPBM, maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.

c.     Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. (Sanjaya, 2006: 212)

4. Strategi Pembelajaran Kooperatif

Menurut Reinhartz dan Beach (1997: 158), strategi pembelajaran kooperatif adalah strategi dimana para peserta didik bekerja dalam kelompok-kelompok atau tim-tim untuk mempelajari konsep-konsep atau materi-materi.

Ada empat ciri penting dari sistem pembelajaran kooperatif, yaitu :

a.     Heterogenitas : Kelompok dibentuk secara heterogen dan multicultural dalam arti jenis kelamin, kemampuan akademis, dan suku.

b.     Jenis-jenis tugas diberikan kepada kelompok : Kebanyakan jenis tugas yang diberikan menuntut setiap kelompok untuk mempelajari materi yang sebelumnya telah disajikan oleh pendidik. Di samping itu, tugas-tugas biasanya diberikan dalam bentuk kerja kelompok.

c.     Tanggungjawab individu : Tanggungjawab individu diantaranya adalah tanggungjawab pada diri sendiri dan kelompok, membantu dan mendorong anggota kelompok, membantu teman sebaya melalui tutorial dan kerjasama.

d.     Sistem penghargaan : . Individu menerima penghargaan didasarkan usaha individu dan prestasi kelompok. Di satu sisi, kelompok dapat berkompetisi antara satu dengan lainnya. Di sisi lain kelompok berkompetisi dengan kelompok mereka sendiri dan akan memperoleh penghargaan yang lebih baik jika mereka memperoleh skor prestasi melebihi skor prestasi sebelumnya.

4. Strategi Pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran afektif adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada pembentukan sikap yang positif pada diri peserta didik. Strategi pembelajaran afektif pada umumnya menghadapkan peserta didik pada situasi yang mengandung konflik atau situasi yang problematis. Melalui situasi ini diharapkan peserta didik dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik (Sanjaya, 2006: 277).

 

5. Strategi Pembelajaran Kontekstual

Strategi pembelajaran konstekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2006: 253).

Menurut Sanjaya (2006: 254), terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL, yaitu :

a.     Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari.

b.     Pemerolehan dan penambahan pengetahuan baru.

c.     Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihapal tetapi untu dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.

d.     Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan peserta didik,

e.     Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan.

 

6. Strategi Pembelajaran Aktif

Strategi pembelajaran aktif terdiri dari :

a.     Card Sort (Sortir Kartu) : Strategi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta, tentang objek atau mereview informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamisir kelas yang jenuh dan bosan (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 53).

b.     The Power of Two (Kekuatan Dua Kepala) : Strategi pembelajaran ini digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta manfaat sinergi dua orang.Strategi ini mempunyai prinsip bahwa berpikir berdua jauh lebih baik daripada berpikir sendiri (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 55).

c.     Team Quiz (Kuis Kelompok) : Strategi ini dapat meningkatkan tanggung jawab belajar peserta didik dalam suasana yang menyenangkan.

d.     Jigsaw : Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian.

e.     Every One is a Teacher Here : Strategi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. Strategi ini memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berperan sebagai pendidik bagi kawankawannya. Dengan strategi ini, peserta didik yang selama ini tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif.

f.      Snow Balling : Strategi ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi peserta didik secara bertingkat. Dimulai dari kelompok kecil kemudian dilanjutkan dengan kelompok yang lebih besar sehingga pada akhirnya akan memunculkan dua atau tiga jawaban yang telah disepakati oleh peserta didik secara berkelompok.

g.     Information Searc (Mencari Informasi) : Strategi ini sama dengan ujian open book. Secara berkelompok peserta didik mencari informasi (biasanya tercakup dalam pelajaran) yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada mereka.

h.     Peer Lesson (Belajar dari Teman) : Strategi ini baik digunakan untuk menggairahkan kemauan peserta didik untuk mengajarkan materi kepada temannya. Jika selama ini ada pameo yang mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain, maka strategi ini akan sangat membantu peserta didik di dalam mengajarkan materi kepada temanteman sekelas (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 65).

i.      Index Card Match (Mencari Pasangan) : Strategi ini cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan(Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 69).

j.      The Learning Cell : Strategi ini merupakan salah satu sistem terbaik untuk membantu pasangan peserta didik belajar dengan lebih efektif. Strategi ini dikembangkan oleh Goldschmid. Strategi ini, menunjuk pada suatu bentuk belajar kooperatif dalam bentuk berpasangan, dimana peserta didik bertanya dan menjawab pertanyaan secara bergantian berdasar pada materi bacaan yang sama (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 89).

7. Strategi Pembelajaran Quantum

Strategi pembelajaran quantum merupakan sebuah program percepatan pembelajaran yang ditawarkan learning forum, yaitu sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi.

Strategi pembelajaran quantum bersandar dan berlandaskan pada konsep “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Inilah asas atau landasan utama alasan dasar di balik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Segala hal yang dilakukan dalam kerangka Quantum Teaching- setiap interaksi dengan peserta didik, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode instruksional di bangun atas prinsip Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka (DePorter, 2003: 6).

 


Cerita Kuliah Online dan harapan kedepannya

  Nama : Hafizin Alzam NIM : 11901351 Dosen Pembimbing Akademik : Farninda Aditya, M.Pd. 2019 merupakan tahun pertama saya melanjutkan studi...