Hafizin Alzam
A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi
berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘strategia’ yang berarti seni
penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Secara umum strategi adalah alat,
rencana, atau metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu tugas (Beckman,
2004: 1). Dalam konteks pembelajaran, strategi berkaitan dengan pendekatan
dalam penyampaian materi pada lingkungan pembelajaran. Strategi pembelajaran
juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan
digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik peserta didik,
kondisi sekolah, lingkungan sekitar dan tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan. Strategi pembelajaran terdiri dari metode, teknik, dan prosedur
yang akan menjamin bahwa peserta didik akan betul-betul mencapai tujuan
pembelajaran.
Menurut
Miarso (2005), strategi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh pembelajaran
dalam suatu sistem pembelajaran, yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan
untuk mencapai tujuan umum pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan
falsafah dan atau teori belajar tertentu. Seels dan Richey (1994: 31)
menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rincian dari seleksi
pengurutan peristiwa dan kegiatan dalam pembelajaran, yang terdiri dari
metode-metode, teknik-teknik maupun prosedur-prosedur yang memungkinkan peserta
didik mencapai tujuan.
Menurut
Romiszowsky (1981) strategi dalam konteks kegiatan pembelajaran mengandung
makna, yaitu untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar dengan memilih
metode-metode yang dapat mengembangkan kegiatan belajar peserta didik secara
lebih aktif. Pendapat yang hampir sama dikemukakan Dick dan Carey (1978: 106)
yang mengatakan strategi belajar mengajar mencakup keseluruhan komponen
pembelajaran yang bertujuan menciptakan suatu bentuk pembelajaran dengan
kondisi tertentu agar dapat membantu proses belajar peserta didik. Sedangkan
Semiawan (1996) berpendapat ditinjau dari segi proses pembelajaran strategi
belajar mengajar merupakan proses bimbingan terhadap peserta didik dengan
menciptakan kondisi belajar murid secara lebih aktif.
Secara
umum strategi pembelajaran dapat dikatakan sebagai keseluruhan pola umum
kegiatan pendidik dan peserta didik dalam mewujudkan peristiwa pembelajaran
yang efektif untuk mencapai tujuan, secara efektif dan efisien terbentuk oleh
paduan antara urutan kegiatan, metode dan media pembelajaran yang digunakan,
serta waktu yang digunakan pendidik dan peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran.
B. Komponen-Kompenen Strategi Pembelajaran
Dick dan Carey (1996: 184) menyebutkan
bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran
pendahuluan, penyampaian informasi, partisipasi peserta didik, tes dan kegiatan
lanjutan.
1. Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan
Kegiatan pembelajaran pendahuluan
memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Pada kegiatan ini pendidik
diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi pelajaran yang akan
disampaikan. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan dapat
memotivasi peserta didik untuk belajar. Cara guru mempekenalkan materi
pelajaran melalui contoh-contoh ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari atau
cara guru menyakinkan apa manfaat mempelajari pokok bahasan tertentu akan
sangat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik (Nurani, dkk.,2003: 1.9).
2. Penyampaian Infromasi
Dalam kegiatan penyampaian informasi,
pendidik akan menetapkan secara pasti informasi, konsep, aturan, dan
prinsip-prinsip apa yang perlu disajikan kepada peserta didik. Di sinilah penjelasan
pokok tentang semua materi pembelajaran. Kesalahan utama yang sering terjadi
pada tahap ini adalah menyajikan informasi terlalu banyak, terutama jika
sebagian besar informasi itu tidak relevan dengan tujuan pembelajaran (Al
Muchtar, dkk, 2007: 2.7). Di samping itu, pendidik harus memahami dengan baik
situasi dan kondisi yang dihadapinya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam penyampaian informasi, yaitu urutan, ruang lingkup, dan jenis materi.
3. Partisipasi Peserta Didik
Partisipasi peserta didik sangat penting
dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila
peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan
relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Nurani,dkk., 2003:
1.11). Terdapat beberapa hal penting yang terkait dengan partisipasi peserta
didik, yaitu :
a.
Latihan
dan praktik seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang
suatu pengetahuan, keterampilan dan sikap.
b.
Umpan
balik. Segera setelah peserta didik menunjukkan perilaku tertentu sebagai hasil
belajarnya, maka pendidik memberikan umpan balik terhadap hasil belajar
tersebut.
4. Tes
Ada dua jenis tes atau penilaian yang
biasa dilakukan oleh kebanyakan pendidik, yaitu pretest dan posttest (Al
Muchtar, 2007: 2.8). Secara umum tes digunakan oleh pendidik untuk mengetahui
apakah tujuan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum dan apakah
pengetahuan, keterampilan dan sikap telah benar-benar dimiliki peserta didik
atau belum. Pelaksanaan tes biasanya dilaksanakan diakhir kegiatan pembelajaran
setelah peserta didik melalui berbagai proses pembelajaran, yaitu penjelasan
tujuan diawal kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi
pembelajaran. Di samping itu, pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta
didik melakukan latihan atau praktik (Nurani, dkk., 2003: 1.12).
5. Kegiatan Lanjutan
Kegiatan lanjutan atau follow up, secara
prinsip ada hubungannya dengan hasil tes yang telah dilakukan. Karena kegiatan
lanjutan esensinya adalah untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik
(Winaputra, 2001: 3.43). Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk
mengoptimalkan hasil belajar peserta didik antara lain adalah sebagai berikut.
a.
Memberikan
tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah
b.
Menjelaskan
kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik
c.
Membaca
materi pelajaran tertentu
d.
Memberikan
motivasi dan bimbingan belajar.
C. Prinsip Strategi Pembelajaran
Menurut Sanjaya setidaknya ada empat
prinsip strategi pembelajaran, yaitu :
a.
Berorientasi
pada tujuan. Dalam sistem pembelajaran, tujuan merupakan komponen yang utama.
Segala aktivitas pendidik dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan, karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran
dapat dilihat dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran
b.
Aktivitas.
Belajar bukan hanya menghafal sejumlah fakta atau informasi, tapi juga berbuat,
memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
c.
Individualitas.
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun
pendidik mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang
ingin dicapai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik.
d.
Integritas.
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta
didik. Dengan demikian, mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif
saja, tetapi juga mengembangkan aspek afektif dan aspek psikomotor.
D. Macam-Macam Strategi Pembelajaran
Strategi pembelelajaran terdiri dari
berbagai macam, diantaranya adalah strategi pembelajaran ekspositori, strategi
pembelajaran inkuiri, strategi pembelajaran berbasis masalah, startegi
pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran afektif, strategi pembelajaran
konstekstual, strategi pembelajaran aktif, dan strategi pembelajaran quantum.
1. Strategi Pembelajaran Ekspositori
Menurut Sanjaya (2006: 177), strategi
pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada
proses penyampaian materi secara verbal dari seorang pendidik kepada sekolompok
peserta didik dengan maksud agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran
secara optimal. Strategi pembelajaran ekspositori cenderung menekankan
penyampaian informasi yang bersumber dari buku teks, referensi atau pengalaman
pribadi.
Strategi pembelajaran ekspositori
berlangsung melalui beberapa tahap sebagai berikut.
a.
Penyajian
informasi. Penyajian informasi ini dapat dilakukan dengan ceramah, latihan,
atau demonstrasi.
b.
Tes
penguasaan dan penyajian ulang bila dipandang perlu.
c.
Memberikan
kesempatan penerapan dalam bentuk contoh dan soal, dengan jumlah dan tingkat
kesulitan yang bertambah.
d.
Memberikan
kesempatan penerapan informasi baru dalam situasi dan masalah sebenarnya.
2. Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara
kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2006: 194).
Menurut Sanjaya (2006: 194-195), ada
beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, yaitu :
a.
Strategi
inkuiri menekankan keaktifan peserta didik secara maksimal untuk mencari dan
menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subjek
belajar.
b.
Seluruh
kegiatan yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan
jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan kegiatan
ini dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
c.
Tujuan
dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan
berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari
proses mental.
3. Strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah
Strategi pembelajaran berbasis masalah
dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang difokuskan kepada
proses penyelesaian masalah/problema secara ilmiah. Problema tersebut bisa
diambil dari buku teks atau dari sumber-sumber lain misalnya dari peristiwa
yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga atau dari
peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat.
Ada tiga karakteristik penting dari
SPBM, yaitu :
a.
SPBM
merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam pelaksanaan SPBM,
peserta didik tidak hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal
materi pelajaran, tetapi juga peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi
mencari dan mengolah data, serta menyimpulkan.
b.
Aktivitas
pembelajaran difokuskan untuk menyelesaikan masalah. Masalah harus ada dalam
implementasi SPBM. Sebab tanpa adanya masalah dalam SPBM, maka tidak mungkin
ada proses pembelajaran.
c.
Pemecahan
masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan
induktif. (Sanjaya, 2006: 212)
4. Strategi Pembelajaran Kooperatif
Menurut Reinhartz dan Beach (1997: 158),
strategi pembelajaran kooperatif adalah strategi dimana para peserta didik
bekerja dalam kelompok-kelompok atau tim-tim untuk mempelajari konsep-konsep atau
materi-materi.
Ada empat ciri penting dari sistem
pembelajaran kooperatif, yaitu :
a.
Heterogenitas
: Kelompok dibentuk secara heterogen dan multicultural dalam arti jenis
kelamin, kemampuan akademis, dan suku.
b.
Jenis-jenis
tugas diberikan kepada kelompok : Kebanyakan jenis tugas yang diberikan
menuntut setiap kelompok untuk mempelajari materi yang sebelumnya telah
disajikan oleh pendidik. Di samping itu, tugas-tugas biasanya diberikan dalam
bentuk kerja kelompok.
c.
Tanggungjawab
individu : Tanggungjawab individu diantaranya adalah tanggungjawab pada diri
sendiri dan kelompok, membantu dan mendorong anggota kelompok, membantu teman
sebaya melalui tutorial dan kerjasama.
d.
Sistem
penghargaan : . Individu menerima penghargaan didasarkan usaha individu dan
prestasi kelompok. Di satu sisi, kelompok dapat berkompetisi antara satu dengan
lainnya. Di sisi lain kelompok berkompetisi dengan kelompok mereka sendiri dan
akan memperoleh penghargaan yang lebih baik jika mereka memperoleh skor
prestasi melebihi skor prestasi sebelumnya.
4. Strategi Pembelajaran Afektif
Strategi pembelajaran afektif adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada pembentukan sikap yang
positif pada diri peserta didik. Strategi pembelajaran afektif pada umumnya
menghadapkan peserta didik pada situasi yang mengandung konflik atau situasi
yang problematis. Melalui situasi ini diharapkan peserta didik dapat mengambil
keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik (Sanjaya, 2006: 277).
5. Strategi Pembelajaran Kontekstual
Strategi pembelajaran konstekstual atau
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang
menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga
mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka
(Sanjaya, 2006: 253).
Menurut Sanjaya (2006: 254), terdapat
lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan
pendekatan CTL, yaitu :
a.
Pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas
dari pengetahuan yang sudah dipelajari.
b.
Pemerolehan
dan penambahan pengetahuan baru.
c.
Pemahaman
pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihapal tetapi untu
dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain
tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru
pengetahuan itu dikembangkan.
d.
Mempraktikkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut artinya pengetahuan dan pengalaman yang
diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan peserta didik,
e.
Melakukan
refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
6. Strategi Pembelajaran Aktif
Strategi pembelajaran aktif terdiri dari
:
a.
Card
Sort (Sortir Kartu) : Strategi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa
digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta, tentang
objek atau mereview informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini
dapat membantu mendinamisir kelas yang jenuh dan bosan (Zaini, Munthe, Aryani,
2007: 53).
b.
The
Power of Two (Kekuatan Dua Kepala) : Strategi pembelajaran ini digunakan untuk
mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta manfaat
sinergi dua orang.Strategi ini mempunyai prinsip bahwa berpikir berdua jauh
lebih baik daripada berpikir sendiri (Zaini, Munthe, Aryani, 2007: 55).
c.
Team
Quiz (Kuis Kelompok) : Strategi ini dapat meningkatkan tanggung jawab belajar
peserta didik dalam suasana yang menyenangkan.
d.
Jigsaw
: Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang
akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak
mengharuskan urutan penyampaian.
e.
Every
One is a Teacher Here : Strategi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi
kelas secara keseluruhan dan secara individual. Strategi ini memberi kesempatan
kepada setiap peserta didik untuk berperan sebagai pendidik bagi kawankawannya.
Dengan strategi ini, peserta didik yang selama ini tidak mau terlibat akan ikut
serta dalam pembelajaran secara aktif.
f.
Snow
Balling : Strategi ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari
diskusi peserta didik secara bertingkat. Dimulai dari kelompok kecil kemudian
dilanjutkan dengan kelompok yang lebih besar sehingga pada akhirnya akan
memunculkan dua atau tiga jawaban yang telah disepakati oleh peserta didik
secara berkelompok.
g.
Information
Searc (Mencari Informasi) : Strategi ini sama dengan ujian open book. Secara
berkelompok peserta didik mencari informasi (biasanya tercakup dalam pelajaran)
yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada mereka.
h.
Peer
Lesson (Belajar dari Teman) : Strategi ini baik digunakan untuk menggairahkan
kemauan peserta didik untuk mengajarkan materi kepada temannya. Jika selama ini
ada pameo yang mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan
mengajarkan kepada orang lain, maka strategi ini akan sangat membantu peserta
didik di dalam mengajarkan materi kepada temanteman sekelas (Zaini, Munthe,
Aryani, 2007: 65).
i.
Index
Card Match (Mencari Pasangan) : Strategi ini cukup menyenangkan yang digunakan
untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi
baru pun tetap bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan peserta didik
diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga
ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan(Zaini, Munthe,
Aryani, 2007: 69).
j.
The
Learning Cell : Strategi ini merupakan salah satu sistem terbaik untuk membantu
pasangan peserta didik belajar dengan lebih efektif. Strategi ini dikembangkan
oleh Goldschmid. Strategi ini, menunjuk pada suatu bentuk belajar kooperatif
dalam bentuk berpasangan, dimana peserta didik bertanya dan menjawab pertanyaan
secara bergantian berdasar pada materi bacaan yang sama (Zaini, Munthe, Aryani,
2007: 89).
7. Strategi Pembelajaran Quantum
Strategi pembelajaran quantum merupakan
sebuah program percepatan pembelajaran yang ditawarkan learning forum, yaitu
sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan
keterampilan akademis dan keterampilan pribadi.
Strategi pembelajaran quantum bersandar
dan berlandaskan pada konsep “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan
dunia kita ke dunia mereka”. Inilah asas atau landasan utama alasan dasar di
balik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching. Segala hal yang
dilakukan dalam kerangka Quantum Teaching- setiap interaksi dengan peserta
didik, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode instruksional di bangun
atas prinsip Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke
dunia mereka (DePorter, 2003: 6).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar